Sate Gajih: Kenikmatan Sesaat di Dunia

sate gajih sate kere beringharjo enak tenan kolesterolnyaHmm…, melihat fotonya saja sudah membuat air liur menetes. Voila! Inilah sate gajih khas Jogja.

Rasanya gurihhh, manisss, sekaligus wangiii. Enak sekali dimakan pas panas-panas setelah diangkat dari pembakarannya. Bumbu manis bercampur gajih cairnya menyeprut (baca: menetes) saat digigit, ohhh… . Bukan basa-basi, benar-benar mak nyuss, Saudara! Sebuah kenikmatan duniawi yang tiada tara.

Sate gajih terbuat dari lemak daging sapi. Dalam bahasa Jawa, lemak disebut sebagai ‘gajih’. Inilah yang menjadi sumber penyebutan sate nan lezat ini. Jadi sate ini bukan sekedar mengandung lemak tetapi sate gajih ini adalah memang lemak (dibakar dengan arang lagi!).

Sate gajih legendaris bisa Anda temui di Pojok Selatan Pasar mBringharjo, di samping pintu samping bagian depan. Mbok-mbok pedagangnya sudah berjualan belasan tahun (mungkin puluhan) di pasar ini. Dahulu, dia mendasarkan dagangannya di depan pasar, berjejer-jejer bersama beberapa penjual sate gajih lainnya. Saat mereka mengibaskan kipas bambunya, bau harum nikmat dari lemak yang terbakar sontak tercium oleh pengunjung pasar yang keluar masuk dari pintu utama. Beberapa tahun belakangan, hanya Mbok satu itu yang lebih sering terlihat. Lokasi dagangnya pun semakin ke pinggir dan memojok dekat pintu samping.

sate gajih sate kere wangi meneteskan air liur kuliner jogjaSelain di Pasar Bringharjo dan depan Pakualaman, sate gajih biasanya dijual di pasar-pasar tradisional di Yogyakarta. Pedagang keliling dengan gerobak atau sepeda juga rajin keluar masuk perkampungan khususnya untuk melayani pembeli anak-anak. Berbeda dengan sate gajih pasar yang potongannya besar-besar, sate gajih keliling dipotong dengan lebih mungil. Racikan bumbunya pun terasa berbeda, tidak semanis versi pasar, tetapi lebih banyak ramuan merica ketumbar dan daun jeruk yang diiris lembut. Tidak kalah nikmat walaupun harga per tusuknya lebih murah. Nah, sate gajih versi keliling ini sering pula disebut sebagai sate kere*. Mungkin karena harganya yang murah meriah sangat bertolak belakang dengan ‘the officially’ sate daging yang dikonsumsi oleh golongan orang berduit. Saat ini (2013) 1 porsi sate sapi di warung kaki lima dijual dengan harga minimal Rp 15.000,00, biasanya berisi 6 tusuk potongan sedang. Sementara 1 tusuk sate gajih pasar berkisar antara Rp 1.500,00 – Rp 2.000,00, dan Rp 1.000,00 untuk 4 tusuk sate kere.

Secara kesehatan, apalagi untuk orang yang sudah berusia, menyantap sate gajih (setiap hari :) ) sebenarnya tidak disarankan. Kandungan kolesterolnya sangat signifikan sehingga menyantapnya secara berlebihan akan membuat kepala pening kliyengan secara langsung. Porsi yang disarankan untuk sate gajih versi Pojok Pasar mBringharjo adalah 2 tusuk saja sekali makan. Sebaiknya Anda mengajak teman dan mencari tempat duduk yang nyaman apabila berencana memakannya lebih dari 2 tusuk.

Jangan lupa, siapkan air banyak-banyak karena sate gajih yang mendingin akan ngendhal alias mengeras/membeku dan meninggalkan sisa-sisa lemaknya di mulut. Rasanya masih tetap enak, kok, walaupun puncak kenikmatannya ya cuma 2-10 menit sesaat setelah diangkat dari anglo. Hahaha… (titis)

*  kere = orang tidak berpunya, orang miskin
**anglo = kompor arang dari gerabah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *